Tepat hari ini dua tahun sudah ku habiskan waktu bersama kursi roda
yang tiap hari selalu menemani langkahku. Dan tepat hari ini pula slide
show masa lalu itu kembali berputar dimemori otakku, slide show yang
sebenarnya sangat menyakitkan, namun entah mengapa ia terus menari nari
dalam benakku. Tahap demi tahap pun ia mainkan sama persis seperti hari
itu. Tidak ada satu bagian pun yang terlewatkan, dan akhirnya sampai pada
bagian dimana tubuh kecilku saat itu di hantam oleh roda roda mini bus
yang melintas di tempat biasa aku menyebrang.Tulang kakiku remuk, sama halnya dengan mimpi dan cita-citaku yang ikut hancur terbawa oleh kencangnya bus sopir mabuk itu. Ini nyata, aku tak mimpi saat itu. Aku merasakan sakitnya, aku menyadari banyaknya orang yang mengelilingiku, bahkan teriakan mereka pun tak luput terdengar di telingaku. Aku merasakan semuanya, tapi entah kenapa mata ini tak kuat untuk memandang mereka, bahkan untuk melihat keadaan diriku sendiripun aku tak bisa, hanya ringkihan yang bisa ku perbuat, ringkihan untuk merasakan sakit yang tepat terasa dibagian betis sebelah kananku.
Aku tidak tau apa lagi yang menimpa tubuhku, bahkan aku sama sekali tidak menyadari jika sudah satu pekan aku tak sadarkan diri. Namun pagi itu, pagi yang di tunggu oleh ayah, ibu beserta keluargaku pun akhirnya tiba. Aku membuka kedua mataku, aku menggerakkan jari jari di tanganku, aku melihat wajah ibu, ayah dan mas panji yang tepat berada di samping tubuhku saat itu. Batinku merindukan mereka, rasanya teramat lama aku tak berjumpa mereka, dan tanpa ku sadari air mataku pun menetes dan disambut oleh kecupan hangat ibu di keningku. Aku merasakan genggaman hangat tangannya, aku merasakan kebahagiaannya. Ibupun ikut menangis bersamaku.“Alhamdulillah, terima kasih nak karena kamu masih memberikan kami waktu untuk terus bersamamu”, ibu mengatakan itu padaku, dan sontak membuatku lebih deras mengeluarkan air mata bahagia.
Aku ingin bangun, aku ingin memeluk ayah yang sedari tadi terus tersenyum ke arahku. Tapi kehancuran itu datang sesaat setelah aku menarik selembar selimut rumah sakit di tubuhku. Aku merasakan ribuan tusukan jarum baja di batinku, aku hancur. Dadaku sesak saat melihat salah satu bagian dari tubuhku sudah tak lengkap seperti dulu. “Yah, kaki kananku . Kaki kananku kenapa?”. Aku menangis pada ayah dan ibuku, menangisi sebuah kenyataan perih ini. “Sayang, maaf kami harus melakukan ini. Akan terjadi pembusukan di kakimu jika luka itu tetap di pertahankan”. Ayah menjawab pertanyaanku dengan nada lesu penuh kesedihan. “Allah jahat yah, kenapa Allah ambil kaki Fhira? kenapa harus Fhira yah ?”. Tangisanku begitu keras, sekeras amarahku saat itu. “Safhira, kamu akan tetap baik baik saja sayang. Ada ayah dan ibu yang akan selalu disamping kamu. Ibu benci jika kamu terus terusan menyalahkan keadaan, terlebih jika kamu harus menyalahkan Allah nak”. Ibu coba menenangkanku dan membelai lembut kepalaku yang saat itu terbungkus oleh perban. Ya perban, karena kecelakaan itu bukan hanya mengakibatkan kakiku di amputasi, tapi kepalaku juga harus mengalami benturan keras yang membuatku koma selama seminggu ini. Namun yang ibu lakukan percuma nampaknya, tak ada satupun kata kata yang ingin ku dengar baik itu ayah ataupun ibu sekalipun yang coba memberiku kekuatan. Dan sampai pada akhirnya suntikan obat penenanglah yang mampu menyudahi jeritan dan kepedihanku saat itu.
Teramat menyakitkan aku menerimanya. Hal yang sebelumnya tidak terfikirkan kini harus menimpaku. Aku cacat, aku hanya mempunyai satu kaki. Bagaimana caranya aku melanjutkan hidup jika harus kehilangan anggota tubuh yang selama ini menopang langkahku ?. Kaki kananku di hancurkan oleh roda roda bus itu, roda roda bus yang di kemudikan oleh supir mabuk yang tak tau diri itu telah membawa masa depan ku jauh ke arah yang menyedihkan…
Akhirnya akupun tiba dirumah setelah sepuluh hari lebih menjadi seorang pesakitan di rumah sakit. Ayah yang mendorong kursi rodaku, dan ibu yang membawakan segala perlengkapanku. Persis seperti bayi yang tak bisa apa apa aku saat itu. Aku merasakan semangat yang dulu kini telah hilang, kebahagiaanku musnah, keceriaanku sudah tak berbekas lagi. Hanya menjadi orang cacat yang tak bisa berjalan, menjadi anak yang bisanya hanya merepotkan saja. Ya itu lah aku dalam fikirku.
Namun ayah ibuku selalu menampik semuanya. Ayah dan ibu bilang aku tetap putri mereka yang dulu, yang cantik yang sempurna dan sama sekali tidak pernah menyusahkan mereka. Mereka selalu bilang ini adalah cara Allah untuk menguatkanku, cara Allah untuk menjadikanku wanita yang lebih tegar untuk menghadapi sakitnya jarum dunia. Tapi semuanya hanya ku anggap omong kosong, semuanya tidak akan mengembalikan kakiku lagi kan ?
Ibu menghancurkan lamunan pedihku dengan semangkuk sup jagung hangat buatannya. Ia berusaha menyuapiku, namun aku selalu menolaknya, bahkan aku malah menjauhkan kursi rodaku dari arah ibu. “Bu, kenapa harus Fhira sih yang mengalaminya ? kenapa tidak orang lain saja bu ?” matakupun kembali meneteskan airnya. “nak, jika ibu boleh minta pada Allah, ibu akan lebih ikhlas jika ibu yang merasakan hal yang kamu rasakan saat ini. Ibu akan rela jika harus kehilangan kaki daripada harus kamu yang mengalaminya. Tapi ini garis yang telah Allah berikan pada kita, Allah lebih tau semuanya sayang”. Ucap ibu sembari menghampiriku. “percaya pada ibu nak, Allah punya rencana yang lebih indah dibanding apa yang kamu bayangkan”. Ibu tersenyum dan menghapus cucuran air mataku dengan jari jari tangannya yang lembut.
Ibu memelukku, dan tanpa kusadari aku memeluknya lebih erat. Aku mengadu sejadi jadinya pada ibu atas segala rasa yang ku alami. Batinku lebih sakit dari kakiku, batinku lebih perih untuk menerima semua yang terjadi. Semua yang akan ku rasakan seumur hidup. Aku belum siap untuk menjadi orang cacat, dan sepertinya sampai kapanpun tak akan pernah siap. Apalagi dengan olokan yang akan aku terima dari orang orang di sekitarku, dan tatapan beda merekapun akan lebih menambah penderitaanku.
Sebulan tepatnya aku hanya mengurung diri di kamar. Gairah hidup seakan tidak ingin menghampiriku, ia pergi jauh dari hidupku. Hanya diam yang ku lakukan. Hanya menatap kosong kearah jendela kamar yang bisa aku perbuat. Sesekali ku lihat teman temanku hilir mudik kesekolah. Dan taukah ? hal itu semakin mencabik batinku, harusnya akupun bersama mereka, bukan seperti sekarang yang hanya duduk di kursi roda tanpa bisa melakukan apapun. Akupun ingin kembali bersekolah seperti dulu, aah namun rasanya tak siap jika harus menunjukan keadaanku pada teman teman sekolahku.
Kali ini ayah yang masuk kamarku, dan mengubah tatapan kosongku menjadi rasa kaget. Ayah membawakan ku sebuah tongkat, ia bilang tongkat ini akan membantuku untuk berjalan. Namun itu ku tolak, rasanya tetap percuma saja aku menggunakan tongkat itu, tak akan pernah mengembalikan kakiku yang dulu kan ? aku akan tetap jadi orang cacat dengan atau tanpa bantuan tongkat itu, aku akan tetap merasakan malu karena tidak ada lagi kaki kananku .
Ayah keluar kamar beserta penolakanku. Aku melihat wajah sedihnya akibat penolakan itu, sungguh sebenarnya aku amat tak tega. Tapi aku tetap belum bisa, aku belum bisa yah …
Siang itu tenggorokanku terasa begitu kering, persediaan air mineral di kamarku juga terlihat sudah habis. Sebenarnya aku malas jika harus keluar kamar, terlebih jika harus mengingat lagi kejadian kejadian yang dulu pernah ku lakukan di dalam rumah sebelum keadaanku seperti ini. Tapi sudah lah, tenggorokanku sepertinya tidak mengerti akan keadaan batinku. Ku dorong kursi rodaku keluar dari kamar, lalu ku tujukan ke arah dapur. Namun sebelum tiba di tempat yang aku tuju, kursi rodaku berhenti tepat di depan pintu kamar ibu yang saat itu tidak tertutup rapat.
Batinku kini kembali hancur saat ku lihat sosok wanita mulia itu menengadahkan kedua tangannya, mengucurkan air matanya. Sayup sayup ku dengar dia amat lirih berdo’a kepada Sang Maha Kuasa, dan lebih hancurnya lagi saat dia sebut namaku didalam baris baris do’anya itu. Dia meminta kesembuhanku, dia meminta semangatku, dia meminta aku yang dulu, yang selalu memberikan kembang senyum padanya. Syair do’a itu amat jelas ku dengar walau samar-samar. Apakah dalam solatnya ia selalu begini Ya Allah ? merendah hanya kepadamu meminta yang terbaik untuk anaknya ?. amat malu aku, sangat amat malu atas apa yang aku berikan kepada orang tuaku terutama ibu. Aku hancurkan do’a do’a ibu selama ini dengan rasa putus asaku, dengan rasa maluku terhadap dunia atas cacat ini. Tapi jauh dari itu ibu tidak pernah berhenti meminta kepadamu YaRabb walau gadisnya tetap begitu.
Akupun masuk kamar ibu, ku dekatkan kursi rodaku ke arahnya yang saat itu dalam posisi sujud. Sepertinya ibu menyadari kedatanganku, ia bangun dari sujudnya kemudian tersenyum kepadaku dan lantas memeluk tubuhku. Aku menangis dipelukannya, aku menangis atas keputus asaanku dan rasa bersalahku yang teramat dalam terhadapnya.
***
Remasan jari lembut ibu menghancurkan lamunanku pada kejadian dua tahun silam itu. Aku amat kaget dan sontak menghapus air mataku. “Ah ibu mengagetkan Fhira saja” ucapku pada ibu. “Fhira sedang apa sayang ? pesawatmu sebentar lagi akan takeoff nak” pertanyaan ibu membuatku spontan melirik jam yang ada di tanganku. “Hm, jam 9.45, 15 menit lagi ternyata”, gumamku dalam hati. “rasanya berat bu walaupun cuma seminggu” lalu ku genggam jari jari tangan ibu. “kamu ini nak, tenang sayang ada ayah yang akan menjaga ibu. Begitupun kamu, ada mas Panji yang pastinya akan selalu siap sedia untukmu” ayah berkata itu sembari tersenyum kepada ibu. Ayah memang paling bisa untuk melepas rasa khawatirku. “Ayo dek berangkat”. Mas Panji yang saat itu tengah mencium tangan ayah dan ibu segera memegang dorongan kursi rodaku. “iya iya Mas, tunggu sebentar ya”, kini giliranku berpamitan pada ayah dan ibu. “Tenang Fhira, hanya seminggu”. Aku coba untuk menghibur diriku sendiri saat itu, berharap saat nanti jauh dari ibu aku benar akan baik baik saja.
Di pintu kaca itu ku lihat ayah dan ibu melambaikan tangannya kepadaku dan Mas Panji, bahasa tubuh yang mengartikan aku harus berhati hati dan menjaga diri saat jauh dari mereka. Jelas aku memang akan baik baik saja, karena ada Mas Panji yang akan selalu menjagaku dan akan menggantikan posisi ibu saat ini.
Tepat pukul sepuluh pesawat yang aku tumpangi akan melesat meninggalkan Bandara Soetta menuju Tokyo. Ya Tokyo, hari ini aku akan pergi ke Jepang. Memang tak terbayang sebelumnya, namun ini nyata. Animo masyarakat Indonesia yang cukup luar biasa terhadap novel perdanaku akhirnya merambat hampir ke seluruh penjuru Asia. Dan kini membuatku dapat menginjakkan kaki di Jepang setelah sebulan yang lalu akupun telah mengadakan launching di Singapura.
Memang dulu aku tak pernah membayangkan semuanya. Sekedar iseng menulis, sekedar iseng menggoyangkan pena di lembaran lembaran kertas A4, dan hanya sekedar berbahagia saat membacanya. Namu kini semua yang “sekedar” itu membawa kebahagiaan yang sangat amat jauh dari kata “sekedar”. Mas Panji lah yang membuat sekedar tulisan isengku itu menjadi sebuah novel yang sekarang membawaku pada puncak pencapaian yang amat menakjubkan. Ia yang membawa tulisanku kepada penerbit dan pada akhirnya seperti sekaranglah kejadiannya.
Karya sang sahabat -----> Dini Nurmalis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar