![]() |
“Tasya kangen mama papa” tak terasa air mataku ikut turun bersama air hujan yang semakin deras membasahi bumi. “Dennis juga kangen mama papa, tapi Dennis ga mau ah nangis kaya Tasya” timpal Dennis dengan senyum yang menghiasi bibirnya. “Kenapa mereka tega buang Tasya?” aku malah menangis lebih keras kepada Dennis. “Biar Tasya bisa ketemu Dennis dipanti ini” balas Dennis sambil menghapus cucuran air mata di wajahku. Aku tak bisa menahan kebahagiaan ku walaupun rasa sedih itu masih tetap terasa di bathinku. Aku tak sendiri rupanya, aku masih memiliki Dennis sahabatku.
Aku tak tahu kapan tepatnya aku dan Dennis bisa bersahabat dan sedekat ini. Yang aku tahu Dennis adalah teman terbaikku. Ia selalu menghiburku saat aku merasa sedih. Ia selalu menenangkanku saat aku marah pada orang tua yang telah membuangku. Iapun selalu membelaku jika aku bertengkar dengan teman satu pantiku yang lain. “Kaulah sahabat terbaikku”. Aku dan Dennis sering mengatakan itu jika sedang mengobrol ataupun bercerita berdua, ya walaupun mungkin aku dan Dennis sama sekali tak mengerti makna dari kata kata itu apa. Ya maklum lah, usia kami masih teramat kecil saat ini. Aku delapan tahun dan Dennis sepuluh tahun. Tapi yang jelas aku memang bahagia bisa sedekat ini dengan Dennis.
Hari ini minggu, dan baru pukul delapan. Namun sedari tadi ku dengar suara orang orang begitu ramai di ruang tamu, dan akhirnya membangunkanku dari tidur nyenyak ini. Aku mengangkat kedua tanganku pertanda malas dan mengantuk. “kamarku sepi sekali, kemana yang lain?” pertanyaan itu spontan terlintas di fikiranku dan spontan pula membuatku melihat lihat isi kamar. Tapi aku tak mengambil pusing hal itu. Lebih baik saat ini aku membereskan kamar dan menyapu lantai saja, fikirku …
“Tasya..” tiba tiba suara Dennis memanggilku dari arah pintu kamar. Akupun langsung menoleh ke arahnya. “ini boneka teddy buat tasya, Dennis pamit ya” ia memberiku sebuah boneka teddy bear mungil berwarna coklat yang amat lucu. “emang Dennis mau kemana?” tanyaku polos kepada Dennis sambil menerima boneka pemberiannya. “Dennis sudah di jemput sama mama dan papa baru Dennis” ia tersenyum kepadaku, arti sederhana sebuah kebahagiaan itu tak seiring dengan perasaanku. Aku kecewa pada sahabatku itu, aku marah kepadanya sampai akhirnya aku melempar boneka itu. “Dennis jahat, Dennis udah gamau lagi jadi sahabat Tasya” tangisku pecah, aku tak mampu menahan kesedihanku karena harus di tinggal oleh Dennis. “Dennis tetap sahabat tasya, Dennis ga akan tinggalin Tasya ko” ia mengambil boneka yang baru saja aku lempar dan menyimpannya di kasur tidurku. Dennis memegang pundak kananku pertanda menenangkan perasaanku yang sedang merasakan sesuatu yang amat sakit di hati. “Dennis janji akan kirim surat terus buat Tasya, Tasya jangan nangis lagi ya”. Dennis meninggalkanku sendiri yang saat itu dalam keadaan mematung. Aku belum bisa menghentikan tangisanku. Aku masih merasakan kata kata perpisahan Dennis yang amat menyakitkan itu. Aku? Bagaimana aku jika tanpa Dennis disini ?’
Di jendela kamarku terlihat jelas Dennis bersama orang tua barunya dan hendak menaiki sebuah mobil mercy berwarna hitam. Aku masih tetap bertahan dengan tangisku. Jujur aku bahagia jika Dennis bisa di adopsi oleh keluarga yang menyayanginya, karena itu adalah mimpi Dennis selama ini. Namun hatiku belum bisa menerima jika kini tak ada lagi Dennis yang akan menemani hari hariku. Tak akan lagi ada candaan konyolnya untuk menghiburku. Ya tak akan ada lagi semua itu. Aku masih tetap dalam posisiku yang tadi, mematung dan menangis.
Dennis tak bohong padaku. Seminggu selepas kepergiannya dari panti, ia mengirimmkan sebuah surat untukku. Ia bercerita tentang keluarga baru yang amat menyayanginya. Ia bercerita kalau sekarang tempat tidurnya empuk dan nyaman. Iapun bercerita tentang sekolah dan teman teman barunya. Aku bergembira membaca surat itu. Aku tak menyangka jika Dennis memang benar benar tak akan melupakanku seperti yang ia katakan tempo dulu. Walaupun sebenarnya hatiku merasakan rindu yang teramat dalam padanya. Tapi mau apa lagi, biar Dennis meraih kebahagiaannya disana. Aku tau keadaannya akan jauh lebih baik dari pada disini.
Namun ternyata, hanya empat minggu Dennis rutin mengirimiku surat. Setelah itu? Entah kemana ia hingga tega membuatku menunggu balasan surat yang ku kirim padanya. Ia menghilang tanpa pamit, ini lebih menyakitkan untukku. Ia sama sekali tak memberiku kabar. Ia sama sekali tak mengijinkanku untuk bercerita lagi kepadanya. “Dennis jahat, Dennis bukan sahabatku lagi” amarahku membuncah saat itu. Walau sebenarnya bathinku bertolak belakang dengan emosiku. Aku masih sangat berharap Dennis akan membalas surat suratku atau bahkan ia akan menemuiku dipanti.
Sebulan, dua bulan, setahun dan sepuluh tahun … ya sepuluh tahun sudah aku menunggu Dennis. Tetap disini, di panti asuhan kami. Aku masih setia menunggu balasan atas semua surat yang aku kirim, ya biarpun kenyataannya harus seperti ini. Aku menunggu sesuatu yang mungkin sangat amat tak bisa datang padaku. Tapi aku masih tetap yakin, suatu saat Dennis akan kembali kepadaku dan kami akan bercerita berdua lagi. Aku masih tetap bertahan menunggu sahabatku itu, walaupun entah berapa pasangan suami istri yang aku tolak untuk mengadopsiku. Ya karena itu, karena dennis akan kembali ke panti ini dan menemaniku lagi seperti dulu.
Kini aku kembali duduk di jendela kesayanganku sambil memeluk boneka pemberian Dennis sepuluh tahun yang lalu. Jendela yang menjadi tempat favoritku dan Dennis untuk bercerita setiap harinya. Namun itu sepuluh tahun yang lalu. Sekarang tinggal aku sendiri disini yang kerap menghabiskan sebagian waktuku untuk menyendiri mengingat Dennis. Aarrgghh aku merindukannya, aku merindukan laki laki yang aku cintai sejak lama, teramat lama. Ya aku mencintainya, aku mencintai bayang bayang Dennis yang kerap mengisi sebagian kehidupanku. Aku mencintai Dennis yang telah tega membiarkanku sendiri disini bersama harapan kosong darinya. Harapan kosong yang ku harap nantinya akan terisi oleh kebahagiaan kami berdua. Entah sampai kapan aku akan seperti ini, menunggu Dennis tanpa sesuatu yang pasti.
Kembali ku teteskan air mata disini. Rasanya memang sudah tak kuat jika harus tetap menunggu Dennis tanpa kepastian layaknya sekarang. Namun rasa sayangku padanya masih tetap tertata rapi seperti dulu, dan hingga kapanpun akan tetap seperti ini. “Tasya, boleh ibu masuk?” suara Bu Ratna ---ibu kepala panti--- mengagetkanku, lalu sontak akupun menghapus air mata yang telah membasahi wajahku. “iya bu, masuk saja” aku sedikit terbata bata saat menjawab pertanyaan Bu Ratna. “kebiasaan ya kamu, hati hati sya jendelanya tinggi” Bu Ratna sedikit khawatir saat melihatku duduk bersila di jendela. “Hehe, iya iya bu tenang saja yaa. Ibu tumben, ada apa ya?” aku sedikit kebingungan sebenarnya, jarang sekali Bu Ratna masuk kamarku. “ada temanmu di ruang tamu, cepat datangi dia kasihan sendirian. Ibu mau siapkan makan siang dulu ya” ucap Bu Ratna sambil berjalan keluar kamarku. Aku masih bingung dengan perkataan Bu Ratna, “tak biasanya temanku datang ke panti”..
Akupun keluar kamar kemudian melangkahkan kedua kakiku ke ruang tamu. Di sudut sofa itu ku lihat seorang laki laki mengenakan sweater berwarna abu dan celana jeans. “cari saya mas?” aku bertanya pada laki laki itu dengan nada yang sedikit kebingungan. Iapun langsung berdiri dari dudknya. Ku lihat wajahnya, rasanya sangat tak asing sekali senyum itu bagiku. Tapi ia siapa ? aku tak mengenalnya. Ia memeluk tubuhku dan berkata “Dennis kangen banget sama Tasya”. Aku hanya terdiam tanpa satu katapun yang terucap dari mulutku. Aku menangis. Aku menangis di pelukan laki laki yang sudah sepuluh tahun aku tunggu kehadirannya. Tak mampu rasanya aku berkata apa apa, hanya tangis dan pelukan saja yang mampu mewakili sesuatu yang saat ini aku rasakan. “Dennis benar benar jahat pada Tasya” tangisanku benar benar pecah saat ini. Aku marah padanya, namun ternyata rasa rinduku melebihi segalanya. “maafkan Dennis ya, Dennis sama sekali ga ada maksud buat tinggalin Tasya” ia mengusap lembut rambut di kepalaku, hal yang dulu pernah ia lakukan, dan akupun masih sangat mengingat itu.
Layaknya sebuah mimpi. Sepuluh tahun dennis menghilang dariku dan kini ia telah kembali di kehidupanku. Kebahagiaanku kini ada lagi setelah kepulangan Dennis dari Amerika. Ya, sepuluh tahun yang lalu tepatnya dua minggu setelah Dennis di adopsi oleh keluarga barunya, ia pindah ke Amerika dan menetap disana. Dan itulah alasan mengapa Dennis tak membalas surat-suratku, karena iapun berpikiran tak mungkin jika hampir tiap minggu aku mengiriminya surat. Namun hal yang Dennis anggap tak mungkin itu jelas jelas telah aku lakukan sepuluh tahun ini.
Lagi, lagi dan lagi. Aku duduk bersila di jendela kesayanganku ini. Seperti dulu, Dennis mengikuti posisi duduk bersilaku sambil memegang dagunya. Aku dan Dennis menatap jauh kearah luar sana. Sekarang bukan hanya bayangan Dennis yang menemaniku menatap langit biru itu, tapi Dennis benar benar nyata ada disini. Kami bercerita banyak. Bercanda tertawa bersama layaknya dulu, dan Dennispun menyanyikan lagu lagu favorit kami dulu. Dia masih ingat semuanya ternyata
Kini langit telah mengubah warnanya menjadi hitam yang amat cantik dengan pantulan sinar bulannya. Aku dan Dennis duduk di teras berdua setelah tadi selesai melaksanakan solat dan makan malam bersama adik adik di panti. Mulut kami sama sama terkunci saat ini. Sesekali aku hanya tersenyum kecil kepada Dennis yang saat ini duduk persis disampingku. Dennis meraih tangan kiriku. Membuat dadaku sontak berdegup kencang. Kuat sekali ia memegang tanganku. Lalu iapun membuka obrolan “sya, Dennis mau ngomong sesuatu” ucapannya membuatku gugup dan berkeringat dingin. “apa ia mau menyatakan perasaannya terhadapku” hatiku mulai nakal dan berharap yang lebih atas apa yang akan Dennis katakan. “ngomong aja” aku sedkit cuek dan berlaga cool menjawab pertanyaan Dennis. Walaupun pada kenyataannya aku amat sangat berharap Dennis akan mengatakan sesuatu yang baru saja aku fikirkan. Ia mengambil sesuatu di tasnya dan memberikannya kepadaku. “Dennis harap, sahabat terbaik Dennis yaitu kamu akan ikut berbahagia atas kebahagiaan Dennis” aku masih belum bisa menangkap arti dari ucapannya itu. “ini undangan?” akupun lantas membuka kertas tebal berwarna merah maroon ini. Dadaku sesak, jantungku seakan berhenti memompa darah saat ku lihat nama Dennis dan seorang wanita yang mengisi lembaran kertas undangan pernikahan yang ku pegang ini. Kiamat datang terlebih dahulu kepadaku. Aku tak mampu berkata apa apa saat ini. Dennis memeluk tubuhku, lebih erat dari pelukannya tadi siang. “Dennis mencintainya, Dennis bahagia bersamanya” ucapan itu bagai sebuah ujung tombak yang menancap tepat di ulu hatiku, sakit rasanya. “Dennis akan menikah dengannya minggu depan, di Jakarta. Pokoknya Tasya harus datang ya” rasanya benar benar sudah tak kuat mendengar potongan demi potongan kalimat yang keluar dari mulut Dennis.
Akupun melepas pelukan Dennis. “hm, kenal dimana?” pertanyaan yang kurasa bodoh, namun mulutku spontan mengeluarkannya. “loh ko Tasya ga kasih selamat? hehe” Dennis sedikit tertawa kecil padaku. Tapi aku tak menghiraukan itu. “teman kuliah di Amerika, dari Jakarta. Dan rencananya kamipun akan pindah ke Jakarta selepas menikah” jawaban panjang lebarnya itu hanya ku balas dengan senyum kecil. Senyuman yang sebenarnya aku sendiripun tak tahu apa maknanya. Haruskah aku berbahagia atas apa yang terjadi, atau malah aku harus bersedih karena sahabat yang aku cintai akan menikah dengan wanita pilhannya.
“Dennis pamit pulang ya, jangan lupa minggu depan datang” ia mengusap pipiku sambil tersenyum tanda pengharapan besar atas kedatanganku di acara terpenting dalam hidupnya. Dennis dengan motornya meninggalkan aku sendiri bersama sebuah luka ini. Batinku masih terbelalak atas semua yang Dennis ucapkan tadi. Tak tahu kah dia bahwa penantian ku selama sepuluh tahun ini karena aku mencintainya? Tak tahu kah dia bahwa yang ku harapkan untuk mengisi surat undangan pernikahan itu adalah namaku dan namanya? Kini aku sudah tak kuasa menahan air mataku yang sedari tadi ku tahan untuk keluar. Entah air mata yang keberapa kalinya aku keluarkan untuk Dennis.Dennis sahabatku yang amat ku cintai. Namun kini tak ada artinya lagi semua tangisanku. Sama halnya dengan air mataku selama sepuluh tahun ini, percuma …
Karya sang sahabat ----> Dini Nurmalis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar